“Sekarang banyak artis yang pacaran dengan bule ya? Malah ada yang nikah dengan bule, kayak Paramita Rusadi, Maudy Koesnaedi, dan yang terakhir Tia Ivanka. Mau dong punya pacar bule!”
Itu obrolan segerombolan ABG (anak baru gede) yang tertangkap telinga Pembaruan. Mereka duduk bersebelahan dengan saya di salah satu kafe di Pasar Raya Grande, Blok M, Jakarta Selatan. Sore itu, saya sedang menunggu seorang kawan yang berjanji datang ke kafe itu.
Awalnya, obrolan para ABG itu saya anggap biasa. Apa sih yang enggak jadi bahan gosip para ABG. Apalagi menyangkut selebritis. Tapi, lama-lama telinga saya jadi gatal. Obrolan para ABG itu makin mengusik rasa ingin tahu saya.
“Gimana ya, caranya bisa kenalan sama bule? Gue dengar, harus sering dugem (dunia gemerlap, red) ke kafe atau diskotek ya?” tanya salah satu ABG yang belakangan saya tahu bernama Maya.
Pertanyaan Maya langsung disambut teman-temannya. Masing-masing berlomba menceritakan apa yang diketahuinya tentang kehidupan ekspatriat. Ada yang dari pengalaman pribadi, tapi ada juga yang tahu dari media massa.
“Kalo dari pengalaman gue sih, memang gampang kenalan sama bule kalau ke kafe atau diskotek. Tapi harus pintar-pintar milih tempatnya, biar enggak dapat bule kere atau yang tua,” kata salah satu dari mereka yang dipanggil dengan nama Mona.
Dengan lancar, Mona menyebutkan beberapa nama kafe dan klub di Jakarta yang sering dikunjungi Bule. Ada CJ’s Café di Hotel Mulia, BAT’s di Hotel Shangrila, Untitled di Hotel JW Marriott, Retro di Hotel Crown Plaza, dan 30 di Hotel Le Merridien.
“Kalau mau cari bule yang muda dan dandy, datang saja ke CJ”s, BAT’s dan Retro. Kalau di 30, bulenya kebanyakan yang sudah tua dan berkeluarga. Kalau yang bulenya mengelompok, biasanya di Untitled,” kata Mona.
Masih banyak lagi obrolan ABG itu mengenai cowok bule. Tapi saya tak dapat lagi menyimak karena teman yang saya tunggu akhirnya datang. Kami lalu ngobrol sebentar dan segera pergi dari kafe itu.
Tapi apa yang diceritakan para ABG itu membuat hati saya terusik. Mengapa sampai mereka ingin pacaran dengan cowok bule? Sekadar ingin memenuhi rasa penasaran ataukah cari sensasi?
Romantis
Untuk mencari jawabannya, saya lalu menghubungi beberapa teman yang sering berkencan dengan cowok bule. Bahkan ada yang sudah bersuamikan bule. Saya lalu mengutarakan niat ingin mewawancarai mereka perihal alasan memilih berkencan dengan ekspatriat.
“Awalnya tak sengaja. Ada teman kantor yang baru datang dari Amerika. Dia tanya soal tempat hiburan di Jakarta. Akhirnya, gue ajak jalan-jalan ke beberapa kafe, keterusan, lalu berkencan deh,” kata Dewi (29), salah satu karyawan perusahaan asing di Jakarta.
Jawaban senada dikatakan Mayland (27). Menurut dia, lingkungan pekerjaannya di perusahaan minyak asing membuat dia sering berinteraksi dengan ekspatriat. Hal itu juga mempermudah dia berkenalan, bahkan berkencan, dengan cowok bule.
“Ada yang dikenalin teman, ada yang rekan bisnis. Semuanya terjadi begitu saja, tak disengaja,” ujar Mayland.
Gara-gara sering berkencan dengan cowok bule, Dewi dan Mayland mengaku jadi rada “dingin” sama cowok lokal. Bukan karena cowok bule biasanya royal, tapi lebih karena sikap mereka.
“Cowok bule tuh romantis. Mereka tahu bagaimana membuat cewek biasa kayak gue berasa jadi putri. Pokoknya, they really know how to entertain and make woman happy,” kata Dewi.
Hampir semua teman saya yang pernah berkencan dengan cowok bule pasti menilai cowok bule romantis. Mereka tak sungkan memuji dan memberikan hadiah untuk membuat pacarnya bahagia.
Selain itu, cowok bule tak pernah basa-basi dan menutupi perasaan. Begitu naksir dan ingin ngajak kencan, mereka langsung ngomong blak-blakan.
“Enggak kayak cowok-cowok kita yang ngomong dulu dari barat ke timur nggak ada juntrungan, baru ke tujuan sebenarnya. Malah ada yang enggak berani terus terang, padahal dari sikapnya sudah ketahuan dia ada feeling sama kita,” ujar Mayland.
Ada lagi kelebihan cowok bule yang membuat wanita merasa dihargai. Mereka lebih perhatian sampai ke hal-hal sepele sekalipun. Seperti mengirimkan ucapan selamat tidur lewat short message services (SMS).
“Bukannya menyepelekan cowok lokal ya. Tapi kebanyakan memang kurang perhatian. Gue juga pernah kencan dengan cowok Batak, Manado, dan Jawa. Rata-rata memang kurang perhatian. Mungkin karena budaya kita yang menempatkan perempuan lebih rendah dari laki-laki,” kata Mayland.
Kendala
Tapi, berkencan dengan cowok bule ternyata ada juga kendalanya. Bukan hanya dari latar belakang budaya yang berbeda, tapi juga dari gaya hidup. Seks bebas dan hura-hura menjadi kendala utama berpacaran dengan cowok bule.
“Soal romantis, cowok bule memang enggak ada duanya. Tapi kalau sudah ngajak tidur, gue pilih mundur,” kata Dewi yang masih memegang teguh adat Jawa.
Dia mengakui, gaya hidup yang cenderung bebas menjadi kendala utama baginya setiap pacaran dengan bule. Secara sikap, cowok bule memang romantis dan perhatian. Mereka tahu bagaimana membuat wanita tersanjung, melambung, dan bahagia. Tapi begitu ajakan berhubungan seks ditolak, kebanyakan cowok bule yang berkencan dengannya memilih mencari cewek lain.
“Pernah gue dikenalin dengan cowok bule yang cakep banget. Awalnya, dia sopan. Tapi baru tiga kali ketemu, udah ngajak tidur. Katanya, relationship without sex is impossible. Langsung aja gue tinggalin,” kata Dewi.
Hal yang sama dikatakan Mayland. Menurutnya, selain masih berpegang teguh pada adat ketimuran, ajaran agama yang dianutnya menjadi kendala untuk mengikuti gaya hidup ekspatriat.
“Sebelum tahu benar gaya hidup cowok bule, sempat berpikir untuk menikah dengan ekspatriat. Hitung-hitung bisa memperbaiki keturunan, bisa ke luar negeri, bisa lancar berbahasa Inggris. Tapi setelah gue tau bagaimana kehidupan mereka yang bebas dan kurang setia, jadi enggak kepikiran,” kata Mayland.
Meski mengagumi cowok bule, Mayland mengaku, tidak bisa menerima gaya hidup mereka yang cenderung bebas. Dia sadar betul, cowok bule tak bisa hidup kesepian atau tanpa wanita. Itu sebabnya, dia tetap pilih-pilih setiap diajak kencan oleh cowok bule.
“Pokoknya selama kita bisa membawa diri dan tahu batasan, cowok bule tak akan memaksa. Mereka menghormati kalau kita menolak diajak macam-macam,” ujar Mayland.
Dia menambahkan, memang sulit menemukan cowok bule yang tidak berorientasi seks. Tapi dengan tetap memegang adat-istiadat, ada juga cowok bule yang tertarik bahkan serius mengajak menikah.
“Makanya, saya suka prihatin kalau melihat cewek-cewek kita yang menghalalkan berbagai hal untuk menggaet cowok bule. Ada yang akhirnya ditinggal begitu si bule selesai tugas di Indonesia,” kata Mayland.
Apa yang dikatakan Mayland dan Dewi mungkin bisa menjadi bahan refleksi. Semenarik apa pun cowok bule, mereka tetap memiliki perbedaan budaya. Sangat disayangkan memang kalau kaum wanita, terutama remaja putri, salah persepsi. Berharap bisa menggandeng bule, tetapi harus mengorbankan banyak hal, termasuk harga diri.
[Pembaruan]






(4.00 out of 5)
ciri-ciri: sawo matang
September 13th, 2009