TEMPO Interaktif, Setiap mendengar kata lemak, dalam pikiran artis Ersa Mayori selalu terbayang soal kegemukan dan makanan yang harus dihindari. Tapi untuk kedua anaknya, Aiska Variana, 6 tahun, dan Talullah Malaika, 2 tahun, dia tahu bahwa lemak harus tetap diberikan.

“Tapi saya tak tahu kalau Omega-3 dan Omega-6 itu berasal dari lemak,” kata dia, Kamis lalu, dalam bincang-bincang soal lemak esensial.

Ersa mengatakan anaknya biasa mengkonsumsi tahu, kacang-kacangan, dan buah alpukat. Ketiga makanan itu mengandung lemak esensial. Apa itu lemak esensial? Menurut dr Ratna Djuwita, MPH, dari Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI), secara garis besar, lemak dibagi dua, yaitu lemak jenuh (saturated fatty acid atau SAFA) dan lemak tak jenuh (trans fatty acid atau TFA).
Lalu lemak tak jenuh dibagi dua: tunggal (monounsaturated fatty acid atau MUFA) dan ganda (polyunsaturated fatty acid atau PUFA). Omega-3 dan Omega-6 ini termasuk PUFA. Omega-3 dan Omega-6 inilah lemak esensial.

Lemak esensial ini berfungsi membantu pembentukan sel membran, sehingga mampu menyerap nutrisi lebih baik. Lemak esensial juga membantu pembentukan hormon. Selain itu, lemak jenis ini baik bagi kesehatan kardiovaskuler. Lemak esensial tak diproduksi tubuh. Namun lemak itu bisa didapat dari makanan, misalnya dari ikan laut dalam, seperti salmon, tenggiri, serta kakap, dan minyak nabati. Selain itu, lemak esensial ada pada telur dan kacang almond.

Menurut dokter spesialis gizi klinik dr Fiastuti Witjaksono, MSSpGK, lemak sering disalahpahami sebagai zat pembentuk kegemukan. Padahal anak membutuhkan asupan gizi yang seimbang untuk beraktivitas dan tumbuh kembang. Anak membutuhkan kalori yang disumbang karbohidrat, protein, dan lemak. “Lemak menyumbang 30 persen kalori bagi anak,” kata Fiastuti.

Tak ada data konsumsi lemak esensial pada anak-anak di Indonesia. Namun Ratna, yang meneliti konsumsi zat makanan orang dewasa di empat etnis di Indonesia (Bugis, Jawa, Minangkabau, dan Sunda), menemukan bahwa konsumsi lemak esensial masih kurang. Justru yang banyak dikonsumsi adalah lemak jenuh. Lemak jenuh ini banyak didapat dari minyak nabati yang dipanaskan dalam waktu lama, seperti digoreng.

Fiastuti menyarankan, jika mengkonsumsi minyak nabati, sebaiknya tidak dipanaskan dalam jangka waktu lama, misalnya digoreng. “Lebih baik ditumis,” kata dia. Sebelum dipanaskan, minyak nabati mengandung banyak lemak tak jenuh. Namun, setelah dipanaskan dalam waktu yang lama, minyak itu justru menjadi sumber lemak jenuh. Pada anak, lemak jenuh bisa menggumpal di pembuluh darah dan terakumulasi, dan saat dewasa, gangguan itu akan memicu penyakit kardiovaskuler.

Walau begitu, anak tetap membutuhkan lemak jenuh ini untuk pertumbuhannya. Kebutuhannya pun lebih banyak daripada orang dewasa. “Anak butuh 20 persen lemak jenuh, sementara orang dewasa cuma setengahnya,” kata Fiastuti. Ketika dewasa, kebutuhan akan lemak jenuh berkurang. Selain itu, anak membutuhkan lemak esensial.
Konsumsi lemak esensial pada bayi yang masih menyusu bisa dilakukan melalui ASI. Ibu mengkonsumsi makanan yang mengandung banyak lemak esensial dan disalurkan melalui air susu ibu (ASI)-nya. Saat anak berusia enam bulan hingga dua tahun, makanan yang mengandung lemak esensial bisa menjadi makanan tambahan ASI. Ketika berusia 3-5 tahun, anak harus mendapat santapan lemak esensial yang cukup. “Bayi sedang tumbuh pesat pada usia ini,” Fiastuti berpesan. | nur rochmi

Makanan Seimbang untuk Anak

Karbohidrat | 50-60 persen
- Sebagai sumber tenaga
- Didapat dari beras, terigu, gandum, buah, dan sayuran

Lemak | 30 persen
- Harus mengandung tiga jenis lemak, yaitu PUFA, SAFA, dan MUFA
- Fungsinya adalah sebagai sumber tenaga, membantu menyerap vitamin, dan pertumbuhan sel

Protein | 15-20 persen
- Berguna untuk membangun dan mengganti sel yang rusak
- Sebaiknya protein berupa gabungan dari nabati dan hewani

Gula
- Boleh, tapi dibatasi, cukup 3-5 sendok makan per hari
- Makanan manis, seperti es krim, permen, dan cokelat, harus diperhitungkan
- Gizinya rendah, tapi berkalori tinggi
- Menyebabkan kerusakan gigi