TEMPO Interaktif, Jakarta – Belakangan ini Rina–bukan nama sebenarnya–merasa malas bekerja. Situasi ini ia rasakan hampir dua tahun terakhir sejak pemimpinnya diganti. Gadis 26 tahun ini merasa bos baru tidak sebaik bos lama, yang naik jabatan.
Rina punya alasan dengan tuduhannya itu. Dengan bos lama, kantor cabang tempat Rina bekerja menyabet penghargaan dari kantor pusat dua tahun berturut-turut. “Bahkan prestasi terus meningkat,” ujar Rina saat dihubungi pada Kamis lalu.
Petaka datang saat bos baru mulai memimpin. Rina, yang bekerja sebagai account officer di kantor cabang perusahaan asuransi pelat merah, merasakan perubahan gaya yang lebih kaku dari bos barunya. Menurut Rina, sebagai tenaga pemasar akan lebih baik jika terjun ke lapangan bertemu dengan klien. “Dulu kami diwajibkan seminggu dua kali ke luar kantor,” ujarnya.
Kebijakan itu dihentikan oleh bos baru. Rina, begitu juga rekannya satu tingkat, diminta berada di kantor mengurus administrasi. Kebutuhan komunikasi dengan klien sebaiknya dilakukan lewat telepon. Akibatnya, banyak urusan yang tidak cepat kelar. Jika demikian, bos meminta anak buahnya lembur. “Penyelesaian yang kurang baik,” kata Rina.
Selain jam kerja bertambah, bos baru kerap menghindar dari masalah. Menurut Rina, persoalan seperti cara menjamu beberapa klien biasanya dipikirkan oleh bos. “Sekarang dilimpahkan ke kami,” katanya. Akibatnya, beban kerja pun bertambah.
Kedongkolan ini pernah disampaikan kepada bos baru itu. Sayang, si bos tak mau dikritik. Alih-alih mencari penyelesaian, bos berkukuh dengan sikap dan kebijakannya. “Tidak mau diskusi,” katanya. Komunikasi dengan bos pun tak selancar dulu. Karyawan, kata Rina, merasa bos baru lebih banyak memerintah ketimbang mendengar. “Jika kita ngomong satu kalimat, dia menimpali 10 kalimat,” ia mengeluh.
Gejala ini membuat karyawan tidak betah di kantor. Hal serupa, kata Rina, dirasakan oleh karyawan si bos di kantornya yang lama. Setelah si bos dipindahkan ke kantor Rina, “Anak buahnya pesta kambing.” Kini Rina dan karyawan lain berharap si bos dipindah tugas.
Pemimpin seperti itu, menurut konsultan manajemen dari IM Consulting, Iskandar Setionegoro, mengalami osteoporosis kepemimpinan. “Ibarat tulang, kepemimpinannya sudah keropos,” katanya saat dihubungi pada Kamis lalu. Ketika bos jarang mau mendengar, akan melahirkan pembangkangan. “Ada saja yang menyanggah,” katanya.
Jika bos tak segera mengevaluasi dan mengubah sifatnya, karyawan tak segan-segan gampang menyalahkannya saat tim dirundung masalah. Fenomena ini menunjukkan wibawa sebagai pemimpin anjlok. “Dia tak memiliki karisma,” ujarnya.
Jika suasana sudah demikian, Iskandar menyarankan bos mengambil tindakan kuratif. Salah satu yang perlu dilakukan adalah legitimasi. Pengakuan secara legal membuat pemimpin lebih dihargai. Namun legalisasi ini tak cukup membantu kepemimpinan yang kuat jika tak dibarengi langkah konkret.
Pekerjaan yang di dalamnya terdapat proses jenjang karier menuntut karyawan terus meningkatkan keahlian. “Terutama yang naik jabatan,” kata Iskandar. Posisi di tingkat paling rendah keahlian yang dituntut adalah hal teknis. Namun, seiring dengan naiknya posisi keahlian yang dituntut adalah mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah. “Jangan berkutat pada urusan teknis,” ujarnya.
Seorang pemimpin juga harus memiliki sifat berani dan adil menegakkan aturan. “Berani memberi hadiah dan sanksi,” kata Iskandar. Pemimpin yang oke tidak boleh memihak anak buah dengan dalih kekerabatan atau urusan di luar pekerjaan.
Agar keputusan tepat dan efektif, pemimpin harus mendapatkan informasi yang akurat. Selain menggali informasi dari rapat rutin, menurut Iskandar, pemimpin harus mau turun ke bawah secara berkala. Turun gunung ini bukan menghampiri karyawan satu tingkat di bawahnya.
“Paling tidak dua tingkat di bawahnya,” ujarnya. Informasi bakal lebih akurat jika pemimpin mampu menggali informasi dari tingkat karyawan yang paling bawah.
Yang perlu diperhatikan saat menggali informasi adalah siap mendengarkan informasi yang buruk. “Apa pun informasinya, jangan emosional,” kata Iskandar. Pemimpin juga perlu mengingatkan anak buah yang bertugas menyuplai informasi. Menurut dia, pemimpin harus membangun persepsi bahwa dia bukan tipe pemimpin yang “asal bapak senang”. Pemimpin seperti ini akan membuat anak buah memberi informasi yang akurat. “Tidak ada yang ditutup-tutupi,” katanya.
Meski telah bekerja dengan baik, bukan jaminan tidak ada kritik. Iskandar menyarankan agar pemimpin tidak gegabah menanggapi setiap kritik. “Perlu selektif,” katanya. Cara menjawab kritik yang paling ampuh adalah dengan hasil kerja. Namun, jika kritik itu memang benar menunjukkan kekurangan, bos harus berani menerima. “Mengakui kekurangan bukan perbuatan yang buruk,” ujarnya. AKBAR TRI KURNIAWAN